Categories
General

Ramuan Spesial Agar Produksi Melimpah

Pertumbuhan sapi perah dimulai dari ja nin menjadi pedet, dara, dan dewasa. Asupan jumlah dan nutrisi pakan yang tidak sesuai kebutuhan tahap ke hidupannya akan menyebabkan pertumbuhan kurang optimal. Ujungnya, produksi susu bisa terhambat dengan kualitas minimal.

Pedet dan Kering Kandang

Menurut Timothe Jany, Ruminant Technical Support PT Neovia Indonesia, ada tiga perbedaan dalam fase pertumbuhan sapi perah, yaitu periode pedet, laktasi atau produktif, dan kering kandang. Da lam periode pedet, sapi mengalami pertumbuhan otot, tulang, dan organ tubuh. Anak sapi itu juga membangun kemampuan rumen atau lambung untuk mencerna serat. Kokot Februhadi, Livestock Technical Manager PT Neovia Indonesia menjelas kan, pedet mengonsumsi kolostrum (susu yang dihasilkan pada akhir masa kehamil an dan awal melahirkan) selama 5-7 hari sesudah dilahirkan dan dilanjutkan de ngan air susu induk (ASI) sapi sampai masa sapih. Selepas sapih atau sekitar umur 1-1,5 bulan, pedet mulai diberikan pakan khusus pedet. “Makanan pedet ini sudah kita beri protein, vitamin, mineral untuk pertumbuhan tulang, otot, dan organ-organ reproduksi nya,” kata dia. Selain itu, peternak biasanya memberikan susu pengganti ASI. “Kon sentrat khusus pedet sampai umur 1,5 tahun cukup,” imbuhnya sambil mengatakan saat inilah pedet mengalami berahi pertama.

Kemudian, awal masa kering kandang dimulai ketika sapi menjalani bunting pertama selama 9 bulan pada umur dua ta hun an. “Mendekati dua minggu masa ke ring, protein, fiber(serat), dan karbohidrat agak dikurangi karena kita fokus ke fetus (ja nin)-nya saja, nggak produksi (susu). Hi jauan berkurang,” urai Kokot. Selain pakan hijauan, asupan nutrisi selama fase ini meng gunakan konsentrat khusus kering kandang. Jany menimpali, masa kering kandang membutuhkan lebih sedikit energi dan protein daripada masa laktasi. Namun sapi tetap membutuhkan energi dan protein untuk perkembangan fetus. Sepanjang masa ini rumen sapi memadat karena ada fetus di dalam kandungan dan asupan pakan lebih rendah. “Pakan kering kandang juga harus di persiapkan untuk menjaga agar sapi mam pu memproduksi susu kembali (laktasi). Itu sebabnya hijauan memegang peran penting saat kering kandang untuk menjaga aktivitas papilla dalam lambung,“ paparnya. Meski begitu, persentase pakan dinaikkan lagi pada dua minggu jelang kelahiran untuk menjaga stamina tubuh sapi saat melahirkan.

Masa Laktasi

Masa laktasi dimulai ketika sapi memproduksi susu setelah menghasilkan kolostrum. Asupan pakan pada fase ini bertujuan meningkatkan produksi susu sarat nutrisi tinggi, khususnya yang mengandung kalsium. Karena itu, sapi juga memerlukan asupan kalsium. “Jadi masa-masa produksi ini pakan kita berikan kalsium yang bisa memenuhi kebutuhannya selain untuk produksi susu tadi,” ulas Kokot. Sapi juga membutuhkan energi dan protein lebih banyak untuk memproduksi susu secara maksimal tanpa mempengaruhi bentuk tubuh yang berperan penting untuk reproduksi.

Dengan pemberian pakan seimbang yang bersumber dari hijauan dan konsentrat, produktivitas susu praktis mening kat. “(Produksi susu) akan lebih terlihat lagi di periode selanjutnya karena di periode itu sangat tergantung dari masa persiapan sebelum laktasi. Ternak itu ASI-nya terbentuk sebelum masa laktasi. Kalau di masa sebelum laktasi kita sudah persiapkan dengan ambing dan makanan yang bagus, di masa laktasi nanti susu akan jadi bagus,” ucapnya. Jany mewanti-wanti peternak untuk menjaga komposisi karbohidrat dan protein seimbang dalam pakan. “Serat lambat terurai sedangkan biji-bijian cepat dikonsumsi. Pakan harus seimbang untuk mencegah masalah serius, seperti asidosis dan ketosis, dan juga menjamin sapi menyerap serat dengan baik,” pungkasnya.