Categories
Agribisnis

Ini Saatnya Revolusi Pemupukan

Pemupukan pada tanaman padi ibarat memberi makan manusia, kandungan nutrisinya harus lengkap dan seimbang. Kekurangan dan kelebihan nutrisi tertentu bisa berdampak negatif. Terkait hal ini, pemerintah telah memberikan rekomendasi pemupukan N, P, K pada padi sawah spesifik lokasi per kecamatan di 21 provinsi sentra produksi padi melalui peraturan menteri pertanian (Permentan) No. 40/2007.

Berdasarkan peraturan yang terbit 11 April 2007 tersebut, untuk mencapai target hasil panen 8 ton/ha, dosis pemupukan nitrogen (N) sebesar 100- 135 kg/ha, fosfat (P2O5) 18-27 kg/ha, dan kalium (K2O) 30-60 kg/ha. Dosis yang tepat bisa didapat dengan mengukur ketersediaan cadangan hara dalam tanah di lokasi penanaman menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk pupuk P dan K. Sedangkan dosis pupuk N dipertepat dengan memanfaatkan Bagan Warna Daun.

Sebagai patokan awal, petani bisa melihat rekomendasi per kecamatan yang tercantum dalam permentan tersebut. Dalam suatu kesempatan seminar pupuk, Iswandi Anas, ahli tanah IPB, menyatakan, sekitar 70% lahan pertanian kita, baik lahan sawah maupun darat, sudah “sakit” akibat aplikasi pupuk anorganik berle bihan dan tidak dikembalikannya limbah tanaman ke lahan.

Tanah memadat dan kandungan bahan or ganiknya sangat rendah, di bawah 3%. Padahal kandungan bahan organik semestinya 5%. Untuk me mu lihkan tanah tersebut perlu pupuk organik dan pupuk hayati yang mengandung mikroba.

Selain NPK, tanaman juga butuh 13 unsur hara lain, yaitu un sur makro Ca, Mg, dan S, unsur hara mikro, yaitu B, Cu, Fe, Na, Mn, Mo, Zn, Ni, Cl, lantas unsur hara benefisial seperti Si dan Co. Senada dengan Iswandi, Sutisna Sintaatmadja, Staf Ahli Pemasaran PT Pupuk Kujang Cikampek, menyebut, tanaman padi membutuhkan zeolit yang me ngandung silika (Si).

“Penggunaan organik seperti zeo lite dan pupuk hayati dapat mengembalikan ke su buran tanah. Pemakaian pupuk kimia juga menja di lebih sedikit,” jelasnya.

Asam Humat

Menurut Lisminto, R&D PT Humat Agro Lestari, di tanah yang sakit, jumlah mikroba berkurang dan ka pasitas tukar kationnya menurun. Sebagai contoh, ta naman padi standarnya diberi pupuk urea 350 kg/ha. Sedang di Indramayu, Jabar, ada yang butuh urea sampai 600 kg/ha baru bisa dapat hasil yang sama seperti sebelumnya.

“Tanah itu sudah sangat jenuh dengan pupuk sintetik anorganik,” komentarnya. Salah satu cara memperbaikinya dengan memberikan asam humat yang mengandung karbon or ganik. Namun, asam humat bukan seperti obat yang sekali minum langsung menyembuhkan.

Pembenahan tanah dengan bahan organik terjadi secara ber tahap. Kepulihan tanah dibarengi dengan me ningkatnya kapasitas tukar kation dan tumbuhnya mikroorganisme di dalamnya. Dengan adanya mikroorganis me dalam tanah, Sutisna menjelaskan, itu akan memberi efek positif.

“Mikroba mengubah aroma yang ada di tanaman jadi aroma yang tidak disukai hama,” kata nya. Sehingga, terciptalah bio pes tisida secara alami dari tanaman yang sehat. Asam humat juga merupakan inti dari pupuk organik. Semisal pupuk organik bisa efektif 10-20 ton/ha/tahun, bisa diganti de ngan asam humat 60 kg/ha/ tahun.

“Supaya mudah, asam humat bisa dicampur dengan pupuk sinte tik,” jelas Lisminto. Senyawa organik yang memiliki gugusgugus aromatik itu, bisa mengurangi kehilangan urea karena pencucian hingga 30%. Jadi, penggunaan pupuk urea lebih efektif. Idealnya, semua urea dilapisi dengan asam humat supaya terbentuk keseimbangan organik dan anorganik.

Kebutuhan Pupuk Organik

Kebutuhan akan pupuk organik direspon PT Pu puk Kujang dengan memproduksi pupuk NPK de ngan kombinasi organik dan kimia. “Produksi pu puk NPK 30-6-8 saat ini ditambahkan asam humat, zeolit, dan unsur yang merangsang hormon tanam an,” ungkap Sutisna.

Menurut Tisna, sapaannya, aplikasi pupuk dengan for mulasi seperti itu menghasilkan peningkatan produktivitas padi yang signifikan. Pi haknya telah me la kukan uji coba de mo plot di Jabar, Jatim, Jateng, Ban ten, Yogya, Bali, NTB, Lampung, dan Halmahera. Ha silnya, dengan pemu pukan NPK 30-6-8 + zeolite + asam hu mat + seng (Zn) + tembaga (Cu), pro duktivitas padi naik rata-rata 2 ton/ha. Penggunaan pupuk organik da pat berfungsi menangkap hara pu puk kimia yang tercuci.

“Daya serap tanam an lebih bagus, akar lebih banyak, dan tanah jadi gembur,” ulas Tisna. Pada musim hujan seperti sekarang, aktivitas pencucian ha ra pun lebih tinggi. Jadi, bahan or ganik merupakan salah satu penahan kandung an hara yang rentan terbawa air. Jika penggunaan pupuk organik sudah optimal, tentu petani akan sa ngat terbantu ka rena, “Lumayan mengurangi biaya produksi.

Pertanian dengan pupuk organik hasilnya sekarang su dah bagus dan produktivitasnya tinggi,” imbuh Tisna.

Perlu Silika

Di Indonesia, hara silika belum begitu diperhatikan. Padahal, menurut Lisminto, silika termasuk nutrien penting untuk padi. “Di Jepang, aplikasi silika sudah mandatori sejak 1957,” ungkapnya. Senyawa dengan rumus kimia SiO2, ini banyak terkandung dalam sekam. Secara fisik silika berfungsi memperkuat sel.

Jadi, bila silika diaplikasikan pada padi dapat me nguatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, kekeringan, dan memperbaiki proses fotosintesis. Menurut Husnain, Kepala Balai Penelitian Tanah, tanaman padi membutuhkan silika dalam bentuk SiO2 tersedia dengan dosis 300-500 kg/ha, tanpa jerami.

“Aplikasinya sekali saja per tahun,” terangnya. Jika dikombinasi dengan jerami, dosisnya bisa dikurangi separuh atau sepertiga. Silika merupakan un sur hara yang netral. Walaupun banyak di tanah tapi tidak meracuni tanah. Tanaman padi banyak mengambil silika dari tanah. Sekam padi, jelas Lisminto, hampir 26%-nya merupakan silika. Hanya saja, “Kalau sekam dibakar di atas 400°C, silikanya berubah menjadi kristal silika, nggak bisa dimakan oleh tanaman padi,” terangnya.

Menurut dia, pemanasan sekam padi harus dengan suhu se kitar 200°C. Sekam padi diubah menjadi organik atau dikarbonkan terlebih dahulu, baru bisa dikembalikan ke tanah sebagai sumber silika.