Categories
General

Kemitraan Santori Menabur Indukan, Menuai Bakalan

Bertepatan dengan Hari Raya Natal 2016, Kapal MV Greyman Express yang diberangkatkan dari Pelabuhan Dar win di Northern Territory, Australia, merapat di Pela buhan Tanjung Perak, Surabaya. Ka pal tersebut mengangkut 3.826 ekor sapi indukan yang diimpor PT Santosa Agrindo (Santori), anak usaha Grup JAPFA. Sapi-sapi indukan itu dijemput dengan 20 truk untuk selanjutnya diangkut menuju kandang yang berlokasi di daerah Tongas, Probolinggo, Jawa Timur. Untuk mengantar semua sapi yang senilai Rp60 miliar lebih itu ke kandangnya, butuh waktu tiga hari.

Menuruti Regulasi dan Wujud Komitmen

Sebagai industri terintegrasi yang perlu mengimpor sapi bakalan, Santori memang terikat dengan Peraturan Men teri Per tanian (Permentan) No.49/2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Re gulasi yang diteken 16 Oktober 2016 dan diundangkan 20 Oktober 2016 tersebut mengatur setiap importasi sapi bakalan wajib disertai sapi indukan dengan perbandingan 5:1. “Ruh dari Permentan 49 ini sesungguhnya adalah bagaimana bentuk partisipasi para feedlotter, para pengusaha integrator dalam pembelajaran pe ternak. Saya butuh mereka mendidik 100 peternak bagaimana cara memelihara sapi yang baik. Mengapa? Karena membangun bangsa ini tidak oleh pemerintah saja, tetapi seluruh stakeholder,” ucap I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ke mentan, pada acara Review Kebijakan Peternakan 2016 di Jakarta (23/12). Dirjen PKH menyadari, populasi sapi nasional memang perlu ditingkatkan. Untuk itu pihaknya menempuh jalan kirikanan.

Maksudnya, “Di dalam ne geri kita meningkatkan populasi. Ke tika mesin produksi (sapi betina) kita su dah dipotong, ya impor indukan di percepat dan diperbesar. Sepuluh ta hun lalu Meksiko memasukkan 1 juta ekor induk. Sekarang dia ekspor. Saya mengajak integrator untuk meng adakan indukan. Ayo maju bersama,” tegasnya. Selaras dengan keinginan pemerintah, Bintoro Tantono, Head of Unit Probolinggo Feedlot mengatakan, “Im por indukan ini merupakan wujud nyata komitmen JAPFA dalam mendukung program peningkatan populasi sapi potong di Indonesia yang di canangkan Pemerintah.

JAPFA melalui anak usahanya, Santori, menjadi perusahaan pertama yang menyambut kebijakan Pemerintah mewajibkan impor sapi bakalan harus disertai im por sapi indukan se besar 20% untuk in dustri dan 10% un tuk program kemitraan.” Diarmita menyambut positif inisiatif Santori mengimpor indukan. “Amanat yang kita bawa adalah bagaimana Santori itu bisa memberikan pembelajaran kepada petani kita untuk beternak yang menguntungkan. Dari situ nan ti, karena sudah kerja sama dengan koperasi-koperasi, kalau Santori mau memasukkan bakalan diberikanlah kemudahan 10 (bakalan) : 1 (induk an),” ujarnya saat mengunjungi peternakan Santori di Probolinggo.

Dari sisi teknis, Permentan 49/2016 akan memangkas kapasitas kandang penggemukan, bahkan sampai waktu ter tentu bisa habis ditempati sapi induk an. Namun di sisi lain regulasi tersebut membuka peluang besar untuk membangun kemitraan dengan peternak rakyat dalam memelihara sapi indukan. Karena itulah Santori menggandeng peternak berpengalaman di Jawa Timur untuk menjadi mitra. Rencananya, kemitraan ini akan merambah seluruh kabupaten di Jawa Timur yang berjumlah 25. Santori memiliki tiga paket kemitraan dengan melibatkan Bank BRI yang mengucurkan kredit KUR Sapi.

Pertama, kemitraan memelihara induk bunting sampai melahirkan dan memelihara pedetnya hingga umur 4 bulan. Kedua, memelihara pedet sapi potong sampai menjadi sapi bakalan berbobot 300-350 kg. Ke tiga, membesarkan pedet sapi perah jan tan hingga menjadi bakalan ber bo bot 450 kg. Menurut Bintoro, di kandang Pro bolinggo yang berkapasitas 15 ribu ekor, sapi-sapi indukan impor akan dikawinsuntik (inseminasi buatan-IB) sampai bunting enam bulan. Nah, sapi bunting itu lalu diserahkan ke peternak mitra sapi bunting. Setelah pedet berumur empat bulan, sapi induk dan pedet diambil lagi oleh Santori. Sapi induk dibuntingkan kembali, sementara pedetnya diserahkan ke peternak mitra pembesaran pedet. “Target kami akan mendistribusikan sapi bunting sebanyak 600 ekor per bulan. Sementara ini baru ada sembilan peternak yang bermitra.

Karena itu, kami akan sosialisasikan ke wilayah lain,” ungkap Bintoro. Dengan jumlah induk saat ini yang se banyak 6.320 ekor, maka pada 2018 diprediksi akan menghasilkan tambah an populasi 3.160 sapi bakalan dan 3.160 ekor sapi indukan di Jawa Timur. Hitungan tersebut berdasarkan pengalaman Santori mengembangbiakkan sapi di Lampung. Jadi, dengan impor indukan, dua target bisa didapat: membantu program peningkatan populasi sapi nasoinal dan memperoleh tambahan bakal an selain dari impor.