Categories
General

Petani Cabai Kurang Sejahtera, Ini Penyebabnya

K etika harga cabai “menyengat”, pemerintah sibuk mendinginkan- nya dengan menggelontor cabai impor karena khawatir inflasi akan melambung. Sebaliknya begitu harga anjlok sampai Rp3.000 per kg, nyaris tidak ada pihak yang peduli. Padahal ongkos produksi cabai naik lima kali lipat, harga panen hanya meningkat dua kali lipat. Begitulah fakta yang dikemukakan Abdul Hamid, Sekjen Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) pada seminar AGRINA Agribusiness Outlook 2018 di Jakarta (15/3).

Rawan Intervensi

Perubahan iklim yang bikin cuaca tidak menentu dan naiknya biaya sa – ra na produksi sangat mempengaruhi ongkos produksi. Data Kemen te – rian Pertanian yang dikutip Hamid menunjukkan, pada 1995-1997 biaya pro duksi cabai di Indo – ne sia sekitar Rp18 jutaRp20 juta/ha. Sedang – kan, pada 2008-2014 ongkosnya mening – kat menjadi sekitar Rp90 juta-Rp100 juta/ha. Tahun ini masih berkisar Rp100 jutaan/ha. Sementara memperkirakan harga cabai saat panen tidak gampang. Selain cuaca, luasan pertanaman sangat mempenga – ruhi harga. AACI memantau daerah Jatim sebagai sentra produksi utama cabai. “Jika di Jatim sudah ada pertanaman hingga 2.000 ha/bulan, maka harga cabai rawit akan stabil sekitar Rp25 ibu-Rp30 ribu/kg,” terang pengusaha benih hortikultura itu. Jika di Jatim pertanaman lebih dari 2.000 ha/bulan, harga akan turun. Ukuran keuntungan petani cabai bisa dilihat dari kemampuan membeli sesuatu seperti kendaraan. Hamid mencontohkan, dulu sekali panen petani cabai bisa membeli mobil kijang yang pernah jaya pada masanya. “Namun sekarang, untuk un – tung saja sulit karena ongkos produksi yang tinggi tapi harga dipaksa ditekan mu rah,” ujarnya. Pernyataan tersebut dibenarkan Arif Darmono, tokoh petani cabai di Sukabumi, Jabar. Titik kritis intervensi pemerintah adalah Rp30 ribu/kg. Bila harga di atas itu, langsung dipadamkan. Karena itu, menurut Hamid, petani se – baik nya berusaha menjaga kesehatan ta – naman agar tidak gampang terserang ha – ma dan penyakit sehingga biaya pengendalian hama penyakit bisa ditekan. Pene – rapan teknologi secara sederhana mampu memperbaiki kesehatan tanah yang su – dah lapuk. “Manfaatkan pH meter untuk cek kesehatan tanah,” sarannya. Sebelum melakukan pertanaman intensif, pastikan pH berkisar 7. Seiring ber kurang – nya unsur hara, nilai pH makin me nurun, 4,8-5,6. Untuk menetralkannya, ta nah de – ngan pH sekitar 4,8 butuh kapur dolo mit sekitar 6,45 ton/ha dan pH sekitar 5,6 membutuhkan dolomit sekitar 2,65 ton/ha.

Awas Pasokan Kurang

Hamid membagi jenis cabai yang beredar di pasaran menjadi dua, cabai besar dan cabai keriting. Pertengahan bulan lalu, sebagian besar penanaman cabai besar di wilayah Banyuwangi dan Malang bekerjasama dengan industri saus. Cabai besar yang sudah dikontrak pun tidak masuk ke pasar bebas. Di Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya, lanjut Hamid, sejauh ini normal-normal saja. Untuk cabai rawit, selama Februari tidak banyak penanaman. Namun mulai MaretApril sudah mulai banyak penanaman. Daerah yang mulai banyak penanaman, yaitu Magelang, Purbalingga, Banjarne – gara (Jateng), Pantai Glagah (DIY), dan Garut, Majalengka, Bogor, Cianjur, Sukabumi (Jabar). Di Banyuwangi, ada sekitar 4.000 ha cabai rawit yang ditanam pada Mei-Juli dan diperkirakan akan panen pada September-November. Di Kediri (Kepung Puncu), juga ada penamaman pada periode yang sama dengan luasan sekitar 2.000 ha. Namun demikian, Hamid juga memprediksi akan ada sekitar 1.000- 1.500 ha tanaman yang mengalami keru – sakan akibat kondisi tanah dan curah hujan yang masih tinggi. Di Mojokerto, Dawar, Jember, Probo – linggo, Magelang, Banjarnegara, dan Purbalingga, masing-masing ada sekitar 1.000-2.000 ha yang ditanam pada MaretApril. “Kita prediksi hari raya Idul Fitri ke – mungkinan ada kekurangan pasokan. Harus antisipasi,” jelas Direktur Utama PT Mulia Bintang Utama itu.